Kamis, 31 Juli 2014

Hai.

"You can see there's something in the way
I've tried to show you, my door is open
I don't know how much more I can take
Since you've chosen, to leave me frozen
Am I the only one, who sees what you've become?
Will you drift away?
We're running out of time, two wrongs can make it right
Could I make you stay?" 
(Clear Bandit-Extraordinary)

Dalam diam, apakah terasa jika aku memperjuangkanmu?

Cukupkah?

Lelaki itu, aku temui pada sebuah malam, dengan kondisi yang tidak begitu menggembirakan. Tubuhnya lemah karena terlalu lelah berjalan.Pakaiannya compang tak karuan, rambutnya acak-acakan, dan yang paling menyedihkan adalah ia tengah menggendong seorang anak perempuan. 
Kuhampiri dia, lalu kuberikan apa yang sekiranya bisa kuberikan untuknya. Dia tersenyum, begitu tulus. Kutanya berapa umur anaknya, dia menjawabnya dengan lirih "10 tahun mbaak, mboten saged jalan niki".
Ingin aku tanya mengapa, namun urung. Aku takut itu membuatnya sedih karna harus bercerita, atau sedih karena terpaksa menggali hati untuk hanya untuk menjawab pertanyaanku. Usai memberikan sedikit yang bisa aku berikan, aku tawarkan lelaki itu tumpangan kemanapun dia mau. Angin malam tak pernah baik untuk paru-paru, setidaknya, aku ingin ia tidur dibawah atap dan berhenti berjalan. Namun lagi-lagi gagal. Lelaki itu bersikeras untuk berjalan ketempat tujuannya, yang tak jelas dimana. Tak berhak memaksa, maka kupeluk erat dan kudoakan ia agar selamat sampai tempat tujuan. Melajulah aku membelah malam dengan bayangan lelaki itu yang semakin mengecil dalam kaca spionku. 

Lemah.

Aku menangis.

Kubayangkan dia, lelaki itu, menjaga anak perempuannya sekuat tenaga. Menggendongnya siang dan malam. Setiap malam akan berbisik pelan padanya, "Nak, apakah nyaman posisi tidurmu?"
Kubayangkan betapa doa dan harap lelaki itu pada anak perempuannya. Pastilah dibelai selalu rambutnya tiap pagi seraya berdoa "Nak, nyenyak tidurmu untuk menjalani hari ini?"

Sungguh anak perempuan yang sangat beruntung.
Dapat berada di pelukan ayahnya tiap malam, di doa ayahnya tiap pagi, dan berada di resah ayahnya yang akan selalu bertanya "Nak, apakah cukup hangat hatimu hari ini?"



*Al Fatihah untuk Ahyar Anwar*

Alasan

The end
"I don't know what to say," he said
"it's okay," She replied. "I know what we are-- and I know what we're not"
(Lang Leav)

Kalau perpisahan adalah hal yang paling konstan yang ada di hidup ini, maka 'alasan' menjadi hal yang paling dicari oleh manusia yang merasa kehilangan. 
Unik. Bicara perpisahan selalu unik. Dibumbui dengan perasaan yang kerap sangat melodramatik, tidak masuk akal, mengada-ada, dan berlebihan. Dahsyatnya kehilangan, sanggup membuat nalar manusia mati. Membuatnya tak enak makan, tak nyenyak tidur, menghabiskan waktu untuk sibuk berfikir 'kenapa'.


Lelaki itu pergi ketika puas bereksperimen dengan pikirannya. Ya, ia punya pikiran serumit prosesor komputer. Bermain dalam pikirannya mampu membuat siapapun tersesat. Hanya dia yang mempunyai kuncinya, hanya dia yang tau jalan keluarnya, hanya dia yang sanggup bertahan. Jika baginya, telah cukup membawa orang lain menjelajahi pikirannya maka dia akan pergi, dengan mudah.
Jangan tanya berapa banyak rindu yang ia sisakan, jawabannya adalah tak terhingga. Jangan pula tanyakan betapa bingungnya aku saat itu, karna tak akan terjawab.
Berkali-kali aku coba mencari rasionalnya, mencoba menjawab pertanyaan dengan mengintip isi otaknya. Namun yang aku temukan lagi dan lagi tersesat. Hingga kuputuskan saja untuk diam.
Dan secara tak diduga, alasan itu datang dengan sendirinya.

Terhenyak!

Hari itu, kuputuskan untuk tak lagi mencari tahu alasan pada setiap kepergian.
Semakin jelas bahwa kepergian ada begitu banyak macamnya. 

Namun yang pasti, ada beberapa kepergian yang tidak perlu diketahui alasanya. Biarkan saja pergi. Lebih baik begitu, pergi tanpa kita pernah tahu apa alasannya. Selamanya. Karena beberapa kepergian memiliki alasan yang tidak rasional. Jadi untuk apa kita harus mengeyam alasannya, saat menikmati kepergiannya saja, sanggup membuat kita meronta-ronta kesakitan. Kepergian selalu memiliki alasan bagi mereka yang pergi, maka cukuplah disimpan oleh mereka yang pergi. 
Bersikeras mengetahui alasannya akan semakin membuat kita semakin gencar bertanya "Tapi, kenapa?". Belum tentu kita paham tentang alasannya. Jikapun kita paham, atau mencoba paham, apa lantas membuatnya tetap tinggal? Bukankah lebih baik jika alasan itu direlakan sejalan dengan kepergian itu sendiri?

Percayalah, jika memang ditakdirkan kembali, maka kepergian itu akan beralasan. 
Jika tidak, maka ringan hatilah untuk melepaskan.



Lepaskan.

Kamis, 26 Juni 2014

Hello 23



“Alif itu lahirnya pagi. Mama inget banget, 2 hari sebelum alif lahir, mama jalan-jalan sama ayah makan pecel di Sukabumi. Habis makan pecel kok perutnya sakit, trus mama ke dokter. Waktu sampe dokter, dokter bilang kalo mama udah pembukaan satu. Jadi mama ga boleh pulang, harus langsung nginep. Besok sorenya, mama ternyata belum kontraksi, dan disuruh susternya jalan-jalan aja di sekitaran komplek rumah sakit bersalin. Jadi mama sama ayah jalan-jalan berdua muterin rumah sakit, sambil bercanda. Malemnya baru deh mama kontraksi dan pagi-pagi Alif lahir….

Alif kecil banget, kayak botol. Matanya ga mau kebuka. Trus mama jilat mata Alif sampe kebuka.

Siti Alifah itu dari mama, Farhana Dinanta dari Ayah”

23 tahun yang lalu.

***

Semakin kesini, ulang tahun semakin menjadi ritual yang biasa saja. Padahal bagi saya dulu, ulang tahun adalah ritual yang perlu dirayakan dengan berbagai macam cara, sederhana atau mewah, yang penting dirayakan. Ulang tahun pernah ditandai dengan perayaan tumbuh besar dan dinanti-nanti. Tapi kini ulang tahun ditandai sebagai alarm, bahwa waktu bersenang-senang kala muda akan segera habis. Perayaan dengan makna yang berbeda. Menyenangkan!

Selamat datang 23! Usia yang sedang gila-gilanya mengekplorasi hidup. Berjalan tanpa lelah, jatuh sebanyak mungkin, melihat seluas mungkin, tertawa keras-keras, dan bermimpi semuluk-muluknya. Ini usia yang tepat untuk melakukan apa saja, bahkan menikah atau mati muda sekalipun. 

Pun saya, usia ini menantang saya untuk melihat lebih banyak lagi tentang sudut dunia, mendengar lebih jauh lagi tentang nestapa, menjamah lebih lebar lagi tentang  bahagia. Terus berjalan hingga menemukan cinta, cita, dan asa yang sempurna. Mencari dan mencari mumpung masih sanggup berlari. Ini justru usia yang tepat untuk merasa jatuh, lenguh, dan menikmati peluh. Ketimbang aman, nyaman, tanpa tantangan.

25 Juni yang selalu membahagiakan. Kejutan-kejutan kecil disiapkan, doa-doa dan harapan riuh dihaturkan, dan saya sibuk memanjatkan keinginan. Karenanya, tak luput saya panjatkan doa baik pada kisanak yang sudi untuk membagi doa dan harapanya untuk saya.


Ini 23,

Ini waktunya menjelajah!




Selamat ulang tahun, Alifah!

Selasa, 24 Juni 2014

Wacana

Kamu hanya awang-awang yang berputar di tempat yang itu-itu saja.
Saat kamu mengatakan bahwa cinta itu mungkin terjadi diantara kita, kamu juga hanya berkata yang itu-itu saja.
Melompati masa dan kembali bergerak dengan senjata yang sama, namun dengan lapangan yang itu-itu saja.
Pada akhirnya kamu kembali menarik kita pada kondisi yang begitu-begitu saja.
Tak ada jemunya, tak ada lelahnya, berputar di satu poros yang itu-itu saja.
Jikapun aku harus meronta-ronta, itu juga untuk alasan yang itu-itu saja.


Kamu itu wacana.
Juga cinta yang kamu tawarkan.




Ilusi, yang itu-itu saja.

Sabtu, 24 Mei 2014

Manusia Dalam Sorotan #1

"Well I don't like,
Living under your spotlight,
Just because you think I might"
(Jennifer Hudson-Spotlight)

Tersebutlah seorang itu sebagai seorang yang berada dalam sorotan.
Saat berada dipanggung pasti akan dieluk-elukan.
Dengan mic dan lampu sorot, kepayanglah dia dengan teriakan-teriakan.
Berganti-ganti panggung dan menikmati tepukan tangan.
Dengan sangat takjub meneriakan namanya dan tanpa pelit memberikan pujian.
Saat naik panggung dan lampu sorot menerpa tubuhnya, maka terbiuslah satu ruangan.
Tatap mata semua tertuju padanya, seorang bintang kesayangan.

Hingar.
Bingar.
Menjadikannya sebagai seorang bintang dibawah lampu sorot.


Aku hanya ingin tahu.

Apa yang terjadi saat ia turun panggung, 
tanpa lampu sorot?

#Bagian1

Achievement Unlocked: Merbabu

Hai.
Sudah lama tidak bercerita tentang hidup. Jadi di hari sabtu yang cerah ini, ijinkanlah saya barang sedikit menceritakan tentang kehidupan saya ini. Oke, jika berkenan, baca dengan seksama ya.

Kali ini saya mau cerita pengalaman saya naik gunung untuk pertama kalinya! (Untuk yang benar-benar mengenal saya, pastinya kaget kalau tahu saya naik gunung. Kalau naik lift mall pastinya semua akan biasa saja. Tapi ini saya naik gunung. Gunung Merbabu)

Ini terjadi di awal bulan Mei. Salah seorang sahabat lelaki saya sedari SMA, Ilham, mengamini salah satu wacana saya tentang naik gunung. Sebelumnya saya memang pernah memintanya untuk mengabulkan keinginan saya naik gunung, jadi ketika Ilham bersedia naik gunung bersama saya, itu seperti jodoh.

Jujur, ketika Ilham betul-betul mengajak saya naik gunung, sebetulnya saya lebih banyak takutnya. Saya takut merepotkan, takut jatuh, takut pingsan, takut banyaklah. Tapi saya halau semua rasa itu, jadi alih-alih saya takut, saya malah lebih excited! (Muehehehe)
Jadi setelah Ilham memberitahu bahwa kami fix akan berangkat di hari sabtu, jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah siap meminjam alat-alat. Mulai dari carrier, sleeping bag, dan sepatu (maklum, sepatu saya flat shoes semua). Membeli aqua 2 botol, coklat, inilah itulah.
Awalnya Ilham bilang akan berangkat jam 2 siang, tapi senyatanya Ilham malah baru menjemput saya jam 8 malam di rumah. Jadi sepanjang itu, saya memanfaatkan waktu dengan tidur. Daaan karena saking bersemangatnya, saat tidur saya bahkan bermimpi sudah berada di puncak.

Singkat cerita, jam 8 malam, Ilham menjemput saya dirumah, dan saya sudah siap naik gunung.

"Wohoooo naik Merbabu kita ham!" Seru saya.
Ilham hanya tertawa.

Menembus malam, kamipun sampai di pintu gerbang menuju desa tempat pos inti Merbabu. Karena jalannya nanjak dan motor Ilham belum diservice maka beberapa kali saya harus turun motor dan berjalan.

Nah ini dia cerita pertamanya.
Jadi, saat turun dari motor dan berjalan, saya sudah kelelahan. Padahal belum apa-apa.
Untuk itu saya berfikir, sepertinya saya tidak akan bisa melanjutkan pendakian ini. Padahal itu bahkan belum sampai di pos inti. Payah ya saya? :(
Nah, saat sampai di pos inti, saya langsung bilang ke Ilham "Ham... aku ga ikutan deh! aku tunggu aja disini"

Tahu apa respon Ilham setelah saya bilang begitu?

Ilham tidak memberikan respon!

Duh..

Pukul 23.00.
Pos Inti Merbabu.

Saya dan Ilham harus menunggu 2 orang lainnya lagi, karena kami akan naik ber 4. Jadi kurang lebih kami baru naik jam 11 malam.

Dan dengan membaca Al-Fatihah 3 kali saya (kami) pun memulai pendakian.

15 menit pertama

"Aku ga kuat... berhenti dulu"

15 menit kedua

"Aku ga kuat. Aku dipanggilin tim SAR aja. Aku ditinggal disini aja sampe besok"

Hahahaha!
Payaaah ya?
Tapi walau banyak berhenti, dalam waktu  kurang lebih 3,5 saya sudah bisa sampai di post 2! Bahagianya saya! Kami sampai sekitar pukul 02.00. Karna pada dasarnya itu adalah pendakian massal, jadi sesampainya di post 2, sudah ada tenda avalaible yang bisa ditiduri.
Jadi tanpa menunggu komando, saya langsung masuk tenda dan tidur.

Pukul 03.00

Saya hiportemia!
Untung saya bawa 3 jaket. Walhasil saya pakailah 3 jaket itu plus sleeping bag. Tidur dengan menggigil hingga subuh datang.


Pukul 07.00

Saya sarapan bersama dengan para pendaki lainnya (tentu saja sebelumnya saya harus pipis dulu di semak-semak dan sholat subuh). Setelah sarapan, Ilhampun berkata "Ayo Peh, muncak"

Saya diam sejuta kata. Sebetulnya saya sudah merasa bangga sudah sampai sejauh ini. Tapi betul juga kata seorang pendaki, "Eman-eman nek ra muncak. Sehat to? Muncak lah"

OKE! Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Mari ke pos 3 (bukan puncak niatnya)

Pukul 08.00

Pendakian ke pos 3 dimulai. So far sih sama dengan pendakian awal. Cuma pendakian dari pos 2 ke pos 3 memang agak nanjak dan jalannya lebih sempit.

Pukul 10.00

POS 3!

"Bagus ya Haaaaam!" Kata saya sumringah.
Ilham hanya tertawa.

Lalu, sambil menunggu anak-anak lainnya tiba di pos 3 saya sibuk melihat pemandangan (dan foto-foto sealakadarnya), dan Ilham tidur.

Pukul 11.00

"Jadi Peh, Merbabu itu puncaknya banyak. Yuk tak bawa kamu ke puncak yang paling deket aja?"
Ilham baik sekali deh. Saya terharu.

Jadi naiklah kami ke puncak tower. Itu puncak yang paling dekat.
Kami naik kurang lebih 20 menitan.

Dan ditengah-tengah pendakian ke puncak, hujan lebat mengguyur.
Jadi cepat-cepatlah kami naik dan berteduh di bawah tower.
Saat reda, kami baru turun.

Nah ini serunya. Dibandingkan naik, turun gunung lebih sulit dan menyeramkan bagi saya. Apalagi saat turun, tetiba hujan nan lebat bat bat bat mengguyur! Jackpot bagi saya yang pemula!
Dari puncak tower ke pos 3 tidak butuh waktu lama walau hujan. Tapi sesampainya di pos 3, lutut saya tremor. Gemeteran hebat. Dan saya ga berani bilang ke Ilham.

Maka dengan kembali menyebut nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang, saya dan Ilham turun dari pos 3 ke pos 2. Waktu naik yang hanya 2 jam itu ternyata sama dengan waktu turunnya yang juga 2 jam. Dengan sepanjang perjalanan yang hujan lebat sehingga harus melawan arus air, saya cuma bisa membaca salawat dan dzikir sepanjang jalan.

Huh hah!

Lucunya adalah ketika sampai kembali di pos 2, penampilan saya kacau. Berantakan.
Malah sampai ada bertanya "Weh, kok lebay e?"

Sial!

Pukul 14.00
Pos 2 lagi

Lemas!
Saya cuma bisa diam dan makan biskuit. Senyum sealakadarnya dan melihat pemandangan. Ditambah baju sampai sepatu saya basah, bikin saya jadi semakin ga nyaman untuk berulah macam-macam.
Keep calm dan makan biskuit gandum.

"Siap?" Kata Ilham saat kita akan turun gunung.
"Yak!" Kata Saya

Dalam hati, saya cuma pengen sampe kamar. Kamar! Saya rindu kamar. Saya mau tidur di ranjang di kamar.
Ayo turun!

Pukul 14.30

Turun gunungpun dimulai.
Lutut saya semakin tremor.
Saya jalan seperti siput.
Ilham harus menggandeng tangan saya dari awal sampe turun.
Lutut semakin tremor, hingga patah-patah untuk berjalan.
Tertatih-tatih dengan makna sebenarnya.
Saya terus-terusan minta maaf karena jalan terlalu lama.
Hingga membuat Ilham jengah dan berkata "Minta maaf sekali lagi, tak tinggal"
Lalu saya diam dan mengikuti jejak langkahnya.

Pukul 17.30
Turun gunung itu biasanya durasinya setengah perjalanan. Tapi saya? Bahkan lebih lama turunnya dibandingkan naiknya.

Hingga sampailah kami di jalan konblok.Saat Ilham mencuci jas hujan saya dan dia yang kotor, saya duduk dan memandang langit sambil menahan tangis.
Lalu dalam hati saya berkata,

"Peh, apa coba yang ada dipikiranmu buat naik gunung?"

Dan cerita klimaks dimulai.
Kaki saya keram dan tidak bsia berjalan.
Padahal pos inti tinggal 10 menit berjalan lagi.

Ilham langsung menelfon temannya namun tidak ada respon. Kemudian Ilham menelfon tim SAR yang nomornya ada di tiket masuk.
Tidak lama kemudian, sekitar 3 menitan, tim SAR datang dengan motor.

Dengan nada tertahan karena menahan tangis dan sakit, saya berkata "Kalau duduknya nyamping bisa mas?"
Mas-nya menjawab "Nanti jatuh mbak, jalannya turun banget soale, ngangkang aja mbak. Saya bantu"

Dengan menahan semua cenut-cenut yang ada, ngangkanglah saya untuk naik motor.
Ya Allah.. gini banget ya :'(

Pukul 18.00
Pos inti.

Saya sudah berganti baju, sudah minum teh anget dan siap pulang ke Jogja, dan Ilham bertanya.
"Kapok Peh?"
"Hooh!"
"Biasane sih gitu. Pendaki awal itu kapok. Trus wegah munggah maneh. Tapi ngko nek wis tekan omah, mesti kangen trus pengen munggah maneh. Hambok piye..."

Dalam hati: "Aku, ra bakal!"


Pukul 20.00
Kami meninggalkan Merbabu dan menuju Jogja.
Karena hujan yang mengguyur terlalu lebat tadi siang, jalan pulang ternyata menjadi sangat bermasalah. Sehingga saat perjalanan pulang, saya dan Ilham sempat jatuh dari motor (Kocak!).

Sampai Jogja kami makan dan Ilham mengantarkan saya ke rumah. Sebelumnya saya mengucapkan beribu-ribu terimakasih pada Ilham atas semua perhatiannya selama pendakian.

Esok hari, pukul 06.00
Badan saya kaku dan keram. Saat bangun yang bisa saya lakukan hanyalah kedip-kedip dan memanggil mama untuk membawakan mukena.
Sehabis sholat, saya melihat foto yang ada, sambil menunggu mbak fitri menelfon dari Lombok.

Di akhir telfonnya mbak fitri bertanya:

"Jadi kapok Peh?"
"Engga!"
"Rinjani kita? Mendaki bareng kita?"
"Mendaki bareng kita!"

Oh shit. Ilham benar tentang pendaki pemula.
Saya mau naik gunung lagi! Mau!

***

Apa yang saya rasakan setelah naik gunung?

1. Film 5 cm itu menipu! HA HA HA!
2. Jujur, saya ga merasa religius banget karena melihat kebesaran Allah. Ya sih, memang keren banget pemandangannya, dan Allah maha besar. Tapi bukan point itu yang saya pelajari. Naik gunung mengajarkan saya bahwa untuk mencapai puncak, kita ga bisa melakukannya sekaligus. Harus bertahap. Pelan-pelan. Dan sebenarnya, bukan pemandangan dipuncaknya yang bikin kita pengen foto, karena saya yakin, melihat dengan mata juga sudah cukup. Alasan foto di puncak itu dikarenakan rasa bangga bahwa akhirnya kita bisa berjuang berada di puncak. Kebanggaan itu yang dipublikasikan. Kebanggaan itu yang akhirnya bikin saya yakin bahwa hidup itu benar-benar perjalanan yang diijinkan oleh Allah. Ya. Naik gunung mengajarkan saya kepada sebuah proses.
3. Push your limit! Nah ini. Ini yang paling berkesan. Ternyata tidak pernah ada hal yang tidak bisa kita lakukan selama kita mau dan Allah Ridha. Makanya, kalau saya merasa lelah dan stuck, saya selalu ingat perjalanan naik gunung. Saya harus melewati semua batasan yang ada. Saya bisa kok.

Sekian cerita saya dan akan saya tutup dengan foto-foto.
Di puncak saya ketemu temen kuliah dan temen gardep saya. Ealah.. 


Special thanks:
Allah SWT and ILHAM ARISNAWAN.

Makasih dengan makna yang tanpa batas ya Ham. Suwun! :')

Kamis, 03 April 2014

Bahagia

Walau tidak sempurna, tapi saya tahu ini adalah bahagia.

Walau tidak sempurna? Ya. Tidak sempurna.
Bagaimana mungkin makan duren berpuluh-puluh, bisa disebut bahagia bagi orang yang benci duren?
Atau bagaimana bisa tertawa terbahak-bahak di kala senja, dikatakan bahagia saat ada yang tengah serius rapat untuk proyek penting, bernilai milyaran?
Bagaimana bisa berbuka puasa sambil memanjatkan doa, dikatakan bahagia bagi mereka yang tanpa memanjatkan doa saja seluruh harta dapat terbeli?

Tapi nyatanya saya bahagia dengan lepas. Karena bahagia memang tidak butuh yang sempurna. Maka saya beryukur mengenal yang sederhana sebagai cara berbahagia.

Sore ini, saya masih bisa berbuka puasa dengan es teh yang dijual diangkringan depan kantor. Harganya murah hanya 1.500. Cukup melegakan tenggorakan, manis, dan pakde penjualnya adalah orang yang ramah.
Kemudian 3 potong klapertart sudah terkunyah sempurna sebagai pengganjal perut. Setelah itu ada pesta duren dadakan di depan kantor sambil tertawa terbahak-bahak dengan orang-orang baik. Sebelum itu masih diberi kesempatan untuk pusing memikirkan konsep ulang tahun kantor. Dan setelah ini akan menonton film di bioskop.
 

Walau tidak sempurna, tapi saya bahagia.

Terimakasih ya Allah.
Terimakasih.

Rabu, 02 April 2014

Aku mengerti

"Sementara, lupakanlah rindu, sadarlah hatiku, hanya ada kau dan aku.." -float-

Karena aku ingat saat hatiku mampu melayang-layang di angkasa. Beberapa kali meledak karena kamu menyapa. Dan merah menyala karena dirayu.
Walau kini layu.
Tak apa.
Sekali lagi, biarkan saja aku merasa rindu dengan derasnya. Bahwa rindu adalah satu-satunya saksi. Walau menjadi tidak adil karena justru malah rindu yang akhirnya menjadi prasasti. Harusnya rindu bukan untuk dikenang. Tapi sayangnya aku tidak memiliki apapun lagi selain rindu untuk mengenang.

Sisanya kini hanya rindu. Hanya rindu.

Tidak lagi menjadi lebih, 
Dan tak akan menjadi kurang.

Kamu tidak akan kembali.
Aku mengerti.

Canggung

Dalam sebuah jembatan.
Membentang dengan aku dan kamu yang berada di sisi-sisinya.
Aku jauh-jauh datang membawa janji.
Tapi jembatan itu tidak menolongku untuk menjumpaimu.
Biarlah...

Maka aku pulang, kucoba esok hari.


Dalam sebuah jembatan.
Besar berdiri diantara aku dan kamu.
Kali ini kusiapkan nyali juga tekad.
Tapi tetap saja jembatan itu satu-satunya penghalangku menujumu.
Biarlah..

Maka aku kembali pulang, dan akan kucoba lagi esok hari.


Dalam sebuah jembatan.
Satu-satunya yang menjadi penghubung antara aku dan kamu.
Hari ini aku membawa rindu, sedang ranum dan kupersiapkan sebagai seserahan.
Namun tetap saja aku gagal menemuimu karena jembatan itu.
Maka biarlah..
Sudah..

Dalam sebuah jembatan bernama canggung yang ingin sekali kutaklukan itu, aku sudah menyerah.

Karena bagaimana bisa aku melewati jembatan yang telah dibangun oleh..
Oleh kamu.




***

"Apa kita akan jadi 2 orang yang saling canggung?"
"Tidak akan"


Sayang, kamu bohong.

Rabu, 12 Maret 2014

Aku bahkan hafal!

Minggu ini, partai politik betul-betul membabi-buta menyerang media untuk satu alasan: menunjukan eksistensi. Kelakuan partai politik ini membuat seluruh inderaku lelah. Hilir mudik mereka berdatangan memaksaku berfikir keras untuk membuat konten yang tepat. Harus inilah-itulah, dengan semua hal yang mereka inginkan. Padahal jika mereka memang memiliki kredibilitas yang tinggi menjadi seorang wakil rakyat, tak perlulah harus melalukan manipulasi media sedemikian rupa hanya untuk dikenal baik. Memangnya mereka produk kosmetik?

Mereka, para partai politik ini, menjadikan media seperti make up yang membuat mereka tampak apik. Atau menjadikan media seperti parfume yang membuat mereka seakan wangi. Padahal, jika mereka mampu dan berani untuk tampil telanjang, paling tidak point kejujuran yang mereka agungkan itu sudah terbuktikan. Bukan malah melakukan kebohongan yang terselubung. 

Sayang, media tidak mampu menolak. Kini, mana ada lagi media yang mampu bertahan dengan ideologi? Marketing akan sangat marah jika ideologi masih bersemayam kuat dalam suatu media. Hingga alih-alih menjadi media yang menjadi anjing pengawas, media malah bersuka cita menjadi salon. Dan jika sudah begini, maka kami-kamilah para budak salon yang harus membuat para partai politik itu tampak baik. Walau kami (saya lebih tepatnya) sudah muak hingga ubun-ubun.

Aku jelas lelah dengan pencitraan mereka. Hari ini terutama. 

Bayangkan, aku harus merubah konten, memanipulasi respon, inilah dan itulah untuk para partai politik yang sesungguhnya buruk rupa. Jangan dikira aku tidak protes. Aku sudah protes, namun dibekap oleh marketing yang berkata lantang  "Duit ini non!"
Ini semakin lama semakin tidak masuk akal. Dimana lagi posisi media yang sehat? Idealnya jika memang demi kepentingan negara, media pasti akan dengan senang hati untuk membantu warga negaranya untuk mengetahui tentang siapa-siapa saja yang kelak akan berjuang untuk mereka. Toh media juga merupakan bagian dari warga. Bukan malah seperti ini, media justru menyanggupi menjadi media kampanye hanya karena uangnya.

Entah siapa yang salah, medianya, partai politiknya, atau aku?

Dan kelelahan ini hampir mencapai puncaknya. Rasanya seperti berbohong untuk sesuatu yang tidak seharusnya berbohong. Seperti memanipulasi untuk hal yang seharusnya tidak dimanipulasi. Lelah karena menggerutu dan menjadi tidak punya kuasa menolak karena alasan "mereka sudah bayar". Hingga menyerah karena alasan "yang penting dibayar". Harga diri mudah ya digadaikan?

Jika sudah lelah begini, biasanya yang lantas aku lakukan adalah beranjak dari kursi kantor berwarna coklat dan pergi menuju meja kotak untuk melontarkan candaan sekenanya. Kemudian tak lama, beberapa rekan kerja menanggapi candaku hingga tawaku meledak-ledak berlebihan.

Namun sore ini, kesibukan yang diberikan partai politik sanggup membuatku enggan meninggalkan kubikelku barang sebentar. Malas rasanya untuk sekedar haha hihi. Hingga alih-alih aku berjalan, aku lebih memilih untuk duduk dengan posisi selonjor dan menikmati linimasa twitter sambil menghirup sisa-sisa kopi dingin. Aku lebih ingin berada pada pada kalimat demi kalimat yang tertulis di media sosial itu.

Tapi sayang, linimasa pada jam-jam segini bukan yang asik untuk diamati. Para pengguna yang kerap memberikan twit menyegarkan pikiran belum berkicau. Mungkin karena masih terlalu sore. 
Aku sebenarnya nyaris menutup twitter, hingga mataku manangkap sebuah twit dan aku memandangi twit itu lama... Lama...

Seorang pengguna yang aku ikuti twitnya menanggapi sebuah pertanyaan dari pengguna twitter yang lain yang tidak aku ikuti.
Apa isinya tanggapan twitnya? Jelas tidak penting! Hanya menjawab pertanyaan basa-basi saja.
Dan apakah aku kenal pengguna yang tidak aku ikuti itu? juga tidak.

Tapi..
Tapi aku tau siapa dia. Dia, pengguna yang tidak aku ikuti pergerakan linimasanya itu, aku tau siapa dia.

Dia adalah pengguna twitter yang juga kerap ada di linimasamu. 

Seakan menyambut rindu, aku langsung teringat kamu.




Kamu yang selalu terpantau oleh rindu.
Maaf jika selalu mengintipmu.

Kamis, 02 Januari 2014

Kemarikan 2014

Apa yang harus saya katakan pada 2013? Terimakasih.

Terimakasih pada 2013 yang memberikan kesempatan dengan sangat lapang, hingga hati saya menjadi tangguh. Tidak cengeng.

Padanya, saya diberikan kesempatan mencicipi betapa nestapanya saat harapan itu kandas terbawa dan hilang meresap oleh udara.
Padanya, saya diberikan kesempatan mencicipi sensasi kecewa yang sungguh jumpalitan rasanya.
Padanya, saya diberikan kesempatan mengenyam harapan dan impian, hingga semuanya menjadi buih muntahan.
Padanya, bertubi-tubi saya terpantul-pantul pada jurang mimpi.

Hingga habis saya merangkak, kembali ketepian tempat semuanya bermula.

Dan saya terkapar, di 2013.



Dengan begitu, apa lagi yang harus saya katakan pada 2013 selain terimakasih?

Terimakasih dengan nada tulus ala anak balita yang diberi balon merah muda saat es krim rasa jambunya terjatuh.
Terimakasih dengan nada ikhlas, seperti seorang ibu yang mengetahui anaknya telah bersusah payah membanting tulang menerbangkannya ke tanah suci.

Ya. Terimakasih katagori itu yang saya haturkan pada 2013.

Karenanya, hati saya bebal atas kecap nelangsa hidup.
Kini saya tahu persis kemampuan saya dalam bertarung untuk selanjutnya.
Karenanya, kuat saya berdiri menantang.

Walau tidak semuanya buruk, namun 2013 sungguh menerpa hati hingga sekuat baja.
Beberapa diantaranya sanggup bikin saya tumbang, terbang, kepayang, tercengang, dilanda rasa senang, dan diliputi perasaan hilang.
Bahkan asmara 2013 mengajarkan saya akan satu hal. Bahwa saya siap meninggalkan semua yang berkaitan dengan sementara. Saya jengah dengan romantika anak muda, dan saya ingin berumah tangga. Ini gara-gara 2013.

Baiklah, karena renungan telah dilakukan,
harapan telah dituliskan,
dan semangat telah dikumpulkan.

Maka sambutlah saya yang siap meluncur dibawah pelangi 2014.

Resolution to make revolution!


GO!
© RIWAYAT
Maira Gall